Senin, 02 Maret 2020

Makanan dan Minuman Nabi Muhammad


Hidangan lezat dan mewah mengalir dari rumah ke rumah di antara orang-orang kaya dan para pemimpin dari abad ke abad. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dikenal sebagai seorang pemimpin. Seringkali datang kepada beliau unta-unta yang penuh dengan muatan, zakat, emas, dan perak. Dengan kekuasaan yang sangat besar ini, bagaimanakah cara makan dan minum Nabi Muhammad? Samakah dengan para pemimpin dan raja pada umumnya? Jangan heran bahwa sebenarnya Rasulullah tidak pernah kenyang. Makan hanya sekadarnya saja, bahkan beliau sering kekurangan makanan sehingga memaksanya untuk berpuasa. Anas bin Malik bercerita kepada kita, sesungguhnya tidak pernah terdapat dalam makan siang Rasulullah atau makan malamnya, roti dan daging, kecuali sangat sedikit dan kekurangan.” (H.R. Tirmidzi)
Diriwayatkan dari Aisyah radiyallahu ‘anha sebagai berikut,
“Keluarga Muhammad belum pernah kenyang dari roti dan gandum selama dua hari berturut-turut sampai Rasulullah meninggal.” (H.R. Muslim)
Dalam riwayat lainnya dikatakan,
“Tidak pernah keluarga Muhammad itu merasakan kenyang, sejak beliau tiba di Madinah, dari makanan yang layak, sampai beliau dipanggil Yang Mahakuasa.” (Muttafaq ‘alaih)
Bahkan, kerap kali beliau tidur tanpa ada sesuatu pun yang mengisi perutnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu,
“Rasulullah melewatkan malam-malamnya bersama keluarga tanpa makan malam, kalaupun ada roti, itu pun roti kering yang terbuat dari gandum.” (H.R. Muslim)
Masalahnya bukanlah kekurangan. Akan tetapi, seringkali harta melimpah datang, baik melalui rampasan perang maupun lainnya, namun karena Allah telah membimbing beliau kepada kesempurnaan akhlaq, yang berbicara kemudian adalah kemurahan dan kedermawanan beliau. Harta-harta beliau dibagi-bagikan kepada orang-orang fakir miskin dan demi kepentingan umat.
Berkata Ibnu Harits, “Rasulullah shalat Ashar bersama kami kemudian beliau bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian beliau keluar dan kami pun bertanya. Lalu beliau menjawab, ‘Di rumah aku meninggalkan emas dari hasil sedekah, maka aku enggan untuk menyimpannya sampai aku membagi-bagikannya.’” (H.R. Muslim)
Sungguh suatu kedermawanan yang luar biasa, melalui tangan beliau yang agung. Seperti yang diceritakan oleh Anas bahwa Rasulullah tidak pernah menolak permintaan seseorang. Pernah suatu kali datang seorang laki-laki kemudian Nabi Muhammad memberinya sekumpulan kambing di antara dua bukit. Lalu laki-laki itu pulang menemui kaumnya dan berteriak lantang, “Wahai kaumku, masuklah kalian ke dalam Islam, sesungguhnya Muhammad memberikan pemberian kepada seseorang dan dia tidak takut menjadi fakir.” (H.R. Muslim)
Walaupun Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam adalah pribadi yang dermawan dan suka bersedekah, akan tetapi keadaan beliau sendiri sangat patut untuk kita renungkan. Anas bin Malik berkata,
“Tidak pernah Rasulullah duduk menghadapi meja makan yang penuh hidangan, sampai beliau wafat. Dan tidak pernah beliau makan roti yang enak dan lembut sampai wafat.” (H.R. Bukhari)
Aisyah menuturkan bahwa suatu hari Rasulullah datang kepadanya lalu berkata, “Apakah ada sesuatu yang bisa dimakan?” Aisyah menjawab, “Tidak ada.” Rasulullah berkata, “Kalau begitu aku berpuasa.” (H.R. Muslim) Diriwayatkan pula bahwa kadang-kadang beliau bersama keluarga selama sebulan penuh hanya mengisi perutnya dengan kurma dan air. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dengan makanan yang sangat sedikit ini beliau banyak bersyukur kepada Allah dan segala nikmat yang diberikan-Nya. Beliau juga berterima kasih kepada orang-orang yang telah membuat makanan itu dan belum pernah Rasulullah menegur mereka kalau bersalah. Oleh karena itu, disebutkan dalam berbagai riwayat bahwa beliau tidak pernah mencela makanan, tidak pernah menegur tukang masak, tidak pernah menolak makanan yang disediakan, dan tidak pernah meminta sesuatu yang tidak ada. Beliau seorang nabi yang tidak mementingkan perutnya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Belum pernah Rasulullah mencela suatu makanan. Kalau beliau suka, makanan itu dimakannya, dan kalau beliau tidak suka, ditinggalkannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Berkata Ibnu Taimiyyah, “Adapun tentang makanan dan pakaian, maka sebaik-baik petunjuk tentang hal tersebut adalah petunjuk dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Akhlaq beliau dalam hal makanan adalah makan sedikit dari yang beliau suka, tidak menolak makanan yang disediakan, tidak mencari-cari yang tidak disediakan. Beliau makan daging dan roti yang dihidangkan, beliau juga memakan kurma yang dihidangkan. Namun, apabila terdapat dua makanan dengan warna yang berbeda, beliau hanya makan satu saja. Beliau juga tidak menolak makanan yang manis dan lezat. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Aku puasa dan aku berbuka, aku tidur dan aku bangun, aku makan daging dan aku menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, dia bukan termasuk golonganku.”
Allah menyuruh agar kita memakan makanan yang baik-baik dan bersyukur kepada-Nya. Maka barangsiapa yang mengharamkan makanan yang baik, maka dia telah melampaui batas, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, dia telah mengambil hak Allah. Metode Rasulullah dalam hal makanan adalah tidak bermewah-mewahan dan tidak terlalu irit seperti seorang pertapa, sedangkan Islam tidak menganjurkan seseorang untuk menjalani kehidupan bertapa.
Setiap yang halal adalah baik dan setiap yang baik adalah halal. Allah menghalalkan kepada kita segala sesuatu yang baik dan mengharamkan segala sesuatu yang buruk. Allah mengharamkan segala sesuatu yang berdampak negatif kepada kita dan membolehkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi kita.
Singkatnya, konsep Islam tentang makanan adalah mengacu kepada hal yang lebih bermanfaat dan meningkatkan kepada ketaqwaan. [1]
Saya menyarankan agar para membaca juga melihat artikel-artikel lainnya tentang Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Hal ini dimaksudkan agar kita lebih mengenal pribadi beliau sehingga tumbuhlah rasa cinta kepada beliau.

Kelembutan Rasulullah Pada Anak-Anak


Hati yang keras yang tidak mengenal kasih sayang dan cinta adalah batu karang. Hati yang lembut adalah hati penuh cinta, penuh kasih sayang, dan pengertian kepada siapapun. Hati yang keras bisa dilatih agar menjadi lembut. Kelembutan hatiadalah hati idaman setiap manusia, dambaan setiap makhluk yang penuh rindu. Seseorang dengan pribadi yang lembut senantiasa menunjukkan cinta kasih kepada sesama. Anas berkata,
“Rasulullah selalu mengambil dan merangkul putranya, Ibrahim, lalu mengecup dan menciumnya.” (H.R. Muslim)
Kasih sayang beliau tidak terbatas pada keluarganya saja, melainkan pada semua orang, termasuk anak-anak tetangga dan seluruh Sahabat. Berkata Asma binti Umais istri ja’far bin Abi Thalib yang tewas di perang Mut’ah, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam masuk ke dalam rumahku dan memanggil anak-anak Ja’far. Aku melihat beliau mencium mereka. Lalu air matanya berjatuhan. Aku bertanya, ‘Apakah ada kabar tentang Ja’far suamiku?’ Beliau menjawab, ‘Ya, dia gugur pada hari ini.’ Lalu kami pun menangis. Lalu beliau pulang dan berkata pada orang-orang, ‘Buatlah makanan untuk kelarga Ja’far karena mereka ditimpa sesuatu.’” (H.R. Ibnu Said, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Dan ketika air mata beliau masih meleleh karena kematian sahabatnya, ditanya oleh Sa’ad bin Ubadah, ‘Apa ini wahai Rasulullah?’ Beliau berkata, ‘Air mata ini adalah rahmat yang diberikan Allah ke dalam hati hamba-Nya. Allah hanya mengasihi orang yang mengasihi orang lain.’” (H.R. Bukhari)
Ketika air mata Rasulullah berjatuhan di waktu putranya, Ibrahim meninggal dunia, Abdur Rahman bin Auf heran, “Anda menangis wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Wahai bin Auf, ini adalah rahmat bagi orang yang mengikutinya dengan yang lain. Sesungguhnya mata bisa menangis, hati berduka, dan kita tidak berkata kecuali yang diridhai Allah, sungguh kami sangat sedih ditinggalkan olehmu wahai Ibrahim.” (Muttafaq ‘alaih)
Di zaman sekarang, sulit kita mengasihi anak kecil, padahal mereka adalah generasi penerus kita. Kita berikan pada mereka segala sesuatu kecuali kasih sayang dan kemesraan. Kita buang kunci hati kita terhadap mereka.
Anas bin Malik, kalau kebetulan lewat dan bertemu dengan anak-anak kecil, mengucap salam kepada mereka. Dia berkata, “Ini selalu dilakukan oleh Rasulullah.” (H.R. Bukhari) Anak-anak kecil memang nakal dan manja. Ini hal yang biasa. Namun, Rasulullah tidak pernah marah kepada mereka atau membentak atau menghardik mereka.
Aisyah radiyallahu ‘anha berkata, “Sekelompok anak kecil dibawa ke hadapan Rasulullah, lalu beliau berdo’a dan menggendong anak kecil itu. Lalu anak itu pipis membasahi baju beliau. Lalu beliau minta air dan disiramkan ke bajunya.” (H.R. Bukhari)
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bercanda dengan cucunya, Hasan bin Ali sambil menjulurkan lidahnya sehingga kelihatan merahnya. Hasan pun tertawa. [1]
Anas berkata,
“Rasulullah mencandai anak kecil, Zainab putri Ummi Salamah, sambil berkata manja, ‘Wahai Zuwainab, Zuwainab, wahai Zuwainab (panggilan sayang).” [2]
Sampai-sampai walaupun di waktu shalat, beliau masih memperhatikan kasih sayang terhadap anak kecil. Pernah beliau shalat sambil menggendong Umamah putri Zainab (cucu beliau). Dan pada saat beliau bersujud, Umamah didudukkan di sampingnya. (H.R. Bukhari)
Mahmud ibnur Rabi meriwayatkan, “Ketika aku masih berumur 5 tahun, aku ingat Rasulullah menyemburkan air ke wajahku dari sebuah sumur di rumahku.” (H.R. Muslim)
Beliau juga suka memberi pelajaran kepada anak kecil. Ibnu Abbas berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Rasulullah. Lalu Rasulullah berkata, ‘Hai anak, kuajarkan kamu beberapa kalimat, jagalah Allah maka Dia akan menjagamu. Jagalah Allah maka Dia berada di depanmu. Kalau kamu minta sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan jika kamu minta tolong, minta tolonglah kepada Allah.’” (H.R. Tirmidzi)
Mari kita sayangi anak kecil karena ini adalah teladan dari Rasulullah, mari jadikan rumah kita sebagai tempat bermain dan belajar bagi mereka, sebagai tempat yang teduh bagi mereka sehingga mereka kelak bisa menjadi pemimpin-pemimpin yang shaleh.

Makanan dan Minuman Nabi Muhammad


Hidangan lezat dan mewah mengalir dari rumah ke rumah di antara orang-orang kaya dan para pemimpin dari abad ke abad. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dikenal sebagai seorang pemimpin. Seringkali datang kepada beliau unta-unta yang penuh dengan muatan, zakat, emas, dan perak. Dengan kekuasaan yang sangat besar ini, bagaimanakah cara makan dan minum Nabi Muhammad? Samakah dengan para pemimpin dan raja pada umumnya? Jangan heran bahwa sebenarnya Rasulullah tidak pernah kenyang. Makan hanya sekadarnya saja, bahkan beliau sering kekurangan makanan sehingga memaksanya untuk berpuasa. Anas bin Malik bercerita kepada kita, sesungguhnya tidak pernah terdapat dalam makan siang Rasulullah atau makan malamnya, roti dan daging, kecuali sangat sedikit dan kekurangan.” (H.R. Tirmidzi)
Diriwayatkan dari Aisyah radiyallahu ‘anha sebagai berikut,
“Keluarga Muhammad belum pernah kenyang dari roti dan gandum selama dua hari berturut-turut sampai Rasulullah meninggal.” (H.R. Muslim)
Dalam riwayat lainnya dikatakan,
“Tidak pernah keluarga Muhammad itu merasakan kenyang, sejak beliau tiba di Madinah, dari makanan yang layak, sampai beliau dipanggil Yang Mahakuasa.” (Muttafaq ‘alaih)
Bahkan, kerap kali beliau tidur tanpa ada sesuatu pun yang mengisi perutnya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu,
“Rasulullah melewatkan malam-malamnya bersama keluarga tanpa makan malam, kalaupun ada roti, itu pun roti kering yang terbuat dari gandum.” (H.R. Muslim)
Masalahnya bukanlah kekurangan. Akan tetapi, seringkali harta melimpah datang, baik melalui rampasan perang maupun lainnya, namun karena Allah telah membimbing beliau kepada kesempurnaan akhlaq, yang berbicara kemudian adalah kemurahan dan kedermawanan beliau. Harta-harta beliau dibagi-bagikan kepada orang-orang fakir miskin dan demi kepentingan umat.
Berkata Ibnu Harits, “Rasulullah shalat Ashar bersama kami kemudian beliau bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian beliau keluar dan kami pun bertanya. Lalu beliau menjawab, ‘Di rumah aku meninggalkan emas dari hasil sedekah, maka aku enggan untuk menyimpannya sampai aku membagi-bagikannya.’” (H.R. Muslim)
Sungguh suatu kedermawanan yang luar biasa, melalui tangan beliau yang agung. Seperti yang diceritakan oleh Anas bahwa Rasulullah tidak pernah menolak permintaan seseorang. Pernah suatu kali datang seorang laki-laki kemudian Nabi Muhammad memberinya sekumpulan kambing di antara dua bukit. Lalu laki-laki itu pulang menemui kaumnya dan berteriak lantang, “Wahai kaumku, masuklah kalian ke dalam Islam, sesungguhnya Muhammad memberikan pemberian kepada seseorang dan dia tidak takut menjadi fakir.” (H.R. Muslim)
Walaupun Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam adalah pribadi yang dermawan dan suka bersedekah, akan tetapi keadaan beliau sendiri sangat patut untuk kita renungkan. Anas bin Malik berkata,
“Tidak pernah Rasulullah duduk menghadapi meja makan yang penuh hidangan, sampai beliau wafat. Dan tidak pernah beliau makan roti yang enak dan lembut sampai wafat.” (H.R. Bukhari)
Aisyah menuturkan bahwa suatu hari Rasulullah datang kepadanya lalu berkata, “Apakah ada sesuatu yang bisa dimakan?” Aisyah menjawab, “Tidak ada.” Rasulullah berkata, “Kalau begitu aku berpuasa.” (H.R. Muslim) Diriwayatkan pula bahwa kadang-kadang beliau bersama keluarga selama sebulan penuh hanya mengisi perutnya dengan kurma dan air. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dengan makanan yang sangat sedikit ini beliau banyak bersyukur kepada Allah dan segala nikmat yang diberikan-Nya. Beliau juga berterima kasih kepada orang-orang yang telah membuat makanan itu dan belum pernah Rasulullah menegur mereka kalau bersalah. Oleh karena itu, disebutkan dalam berbagai riwayat bahwa beliau tidak pernah mencela makanan, tidak pernah menegur tukang masak, tidak pernah menolak makanan yang disediakan, dan tidak pernah meminta sesuatu yang tidak ada. Beliau seorang nabi yang tidak mementingkan perutnya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Belum pernah Rasulullah mencela suatu makanan. Kalau beliau suka, makanan itu dimakannya, dan kalau beliau tidak suka, ditinggalkannya.” (Muttafaq ‘alaih)
Berkata Ibnu Taimiyyah, “Adapun tentang makanan dan pakaian, maka sebaik-baik petunjuk tentang hal tersebut adalah petunjuk dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Akhlaq beliau dalam hal makanan adalah makan sedikit dari yang beliau suka, tidak menolak makanan yang disediakan, tidak mencari-cari yang tidak disediakan. Beliau makan daging dan roti yang dihidangkan, beliau juga memakan kurma yang dihidangkan. Namun, apabila terdapat dua makanan dengan warna yang berbeda, beliau hanya makan satu saja. Beliau juga tidak menolak makanan yang manis dan lezat. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Aku puasa dan aku berbuka, aku tidur dan aku bangun, aku makan daging dan aku menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, dia bukan termasuk golonganku.”
Allah menyuruh agar kita memakan makanan yang baik-baik dan bersyukur kepada-Nya. Maka barangsiapa yang mengharamkan makanan yang baik, maka dia telah melampaui batas, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, dia telah mengambil hak Allah. Metode Rasulullah dalam hal makanan adalah tidak bermewah-mewahan dan tidak terlalu irit seperti seorang pertapa, sedangkan Islam tidak menganjurkan seseorang untuk menjalani kehidupan bertapa.
Setiap yang halal adalah baik dan setiap yang baik adalah halal. Allah menghalalkan kepada kita segala sesuatu yang baik dan mengharamkan segala sesuatu yang buruk. Allah mengharamkan segala sesuatu yang berdampak negatif kepada kita dan membolehkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi kita.
Singkatnya, konsep Islam tentang makanan adalah mengacu kepada hal yang lebih bermanfaat dan meningkatkan kepada ketaqwaan. [1]
Saya menyarankan agar para membaca juga melihat artikel-artikel lainnya tentang Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Hal ini dimaksudkan agar kita lebih mengenal pribadi beliau sehingga tumbuhlah rasa cinta kepada beliau.

Keberanian Rasulullah dalam Berdakwah


Dalam diri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam terdapat keberanian yang luar biasa sebagai sarana utama untuk memperjuangkan agama dan menjunjung tinggi kalimat Allah. Rasulullah menjadikan segala nikmat yang diperolehnya untuk ditempatkan dan disalurkan pada tempat yang benar. Aisyah radiyallahu ‘anhu berkata, “Belum pernah Rasulullah memukul seseorang dengan tangannya kecuali dalam peperangan dan belum pernah beliau memukul seorang pembantu atau seorang wanita.” (H.R. Muslim).
Contoh paling nyata dari keberanian Nabi Muhammad adalah ketika beliau seorang diri menyeru kaumnya yang terdiri dari pemimpin dan tokoh-tokoh kaum kafir Quraisy serta mengajak mereka untuk masuk ke dalam ajaran Islam. Dan beliau percaya bahwa Allah akan menolongnya karena sejak semula beliau percaya kepada Allah dan bertawakal dalam melaksanakan tugas dakwahnya.
Dalam peperangan, Nabi Muhammad adalah orang yang paling berani. Ketika orang-orang lari ketakutan, Nabi Muhammad tetap berdiri tegak seorang diri melawan musuh-musuhnya.
Beliau beribadah dalam kesunyian Gua Hira selama bertahun-tahun tanpa mendapatkan rintangan dan permusuhan dari kaum Quraisy. Namun ketika beliau mulai mengajak kaumnya untuk bertauhid kepada Allah, pada saat itulah kaum Quraisy mulai menentangnya.
Allah berfirman,
“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusanmu?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’” (Qs. Yunus: 31)
Orang-orang Quraisy itu menjadikan berhala-berhala sebagai perantara antara mereka dengan Allah sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an,
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berhala), ‘Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (Qs. az-Zumar: 3)
Seandainya mereka tidak begitu, niscaya mereka telah mengakui Allah sebagai tuhan mereka. Allah berfirman,
“Katakanlah, siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Katakanlah, ‘Allah.’” (Qs. Saba’: 24)
Cobalah kita renungkan, betapa syirik sudah merajalela di tengah-tengah kaum Muslim; meminta kepada orang leluhur, bernazar, takut kualat, dan berharap kepada mereka. Dengan begitu, tali-tali penghubung kepada Allah telah putus disebabkan syirik dan meminta-minta kepada berhala atau orang yang telah mati.
Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang menyekutukan Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya adalah neraka.” (Qs. Al-Maa’idah: 72)
Dari rumah Nabi Muhammad, kita layangkan pandangan ke arah utara pada sebuah gunung yang bernama Uhud, sebagai saksi bisu atas keberanian dan kesabaran serta keteguhan beliau. Nabi Muhammad mengalami luka yang cukup parah dalam peperangan yang terjadi di kaki gunung Uhud. Wajahnya berdarah, gigi geraham beliau pecah, serta kepalanya berdarah-darah.
Sahal bin Sa’ad menceritakan tentang luka-luka beliau dan berkata, “Ketahuilah demi Allah, aku mengetahui siapa yang membersihkan luka Rasulullah dan siapa yang menyirami dengan air dan dengan apa beliau diobati. Yang membersihkan adalah Fatimah sedangkan yang menyirami dengan air adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika Fatimah melihat darah semakin banyak keluar, dia menyobek sepotong tikar, membakarnya dan membalutkannya, dan kemudian darah berhenti mengalir. Namun, gigi geraham dan bagian atas kepala beliau serta wajah beliau tampak terluka cukup parah.” (H.R. Bukhari)
Al-Abbas bin Abdul Muthalib menceritakan keteguhan Nabi Muhammad dalam perang Hunain, “Ketika pasukan Muslim mundur, Rasulullah tetap mengarahkan kudanya ke arah musuh dan aku memegang tali kekangnya supaya tidak berlari cepat. Waktu itu kudengar Rasulullah berkata, ‘Aku nabi bukan seorang pembohong, aku cucu Abdul Muthalib.’” (H.R. Muslim)
Seorang pahlawan muda yang tangguh dan pemberani serta penunggang kuda yang handal dan teruji ketangguhannya di segala medan tempur, Ali bin Abi Thalib, menceritakan keberanian Rasulullah sebagai berikut, “Ketika perang sedang berkecamuk dan dua pasukan telah saling membunuh, kami para sahabat berlindung dibalik Rasulullah dan tidak ada seorang pun yang lebih dekat kepada musuh kecuali beliau.” (H.R. al-Baghawi dan Muslim)
Karena kesabaran Rasulullah dalam berdakwah, Allah menjadikan agama Islam ini tersebar luas sampai ke negara-negara Asia Tengah bahkan sampai timur jauh. Pasukan berkuda umat Muslim sudah terbiasa mengelilingi Jazirah Arab dan negara Syam, sehingga tidak ada satu tempat pun yang tidak mereka jamah.
Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya aku takut kepada Allah dan tidak takut kepada siapapun selain Dia. Aku ditakuti karena Allah dan tidak ada seorang pun yang ditakuti karena Allah selain aku. Dan aku telah disakiti di jalan Allah dan tidak seorang pun disakiti selain aku. Aku telah mengalami selama tiga puluh hari siang dan malam, sedangkan aku ataupun Bilal sama-sama tidak punya apa-apa untuk dimakan kecuali apa yang menutupi ketiak Bilal (sangat sedikit).” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad)
Walaupun beliau berkuasa dan menaklukkan berbagai negeri, harta rampasan perang melimpah, dan zakat menggunung, beliau tidak mewariskan apa-apa kecuali agama dan ajaran Islam. Itulah yang disebut warisan Rasulullah. Maka, siapapun yang belajar agama, dia telah memperoleh warisan dari Rasulullah.
Diriwayatkan oleh Aisyah,
“Rasulullah tidak meninggalkan warisan dinar atau dirham, kambing atau unta, dan tidak mewasiatkan sesuatu.” (H.R. Muslim)

Sifat Terpuji Nabi Muhammad dalam Memperlakukan Orang Lain


Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam adalah manusia pilihan Allah yang mempunyai sifat lemah lembut dan kasih sayang terhadap sesama. Beliau memperlakukan orang lain dengan penuh kelembutan. Itulah mengapa beliau dicintai oleh orang-orang di sekitarnya, bahkan para non-Muslim mencintai beliau shalallahu ‘alaihi wassalam, dan banyak di antara mereka yang akhirnya memeluk agama Islam. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai sifat mulia beliau.
Perlakuan Rasulullah Terhadap Tetangga
Betapa beruntungnya bila menjadi tetangga Rasulullah. Di mata beliau, tetangga mempunyai tempat dan kedudukan yang tinggi. Beliau bersabda,
“Jibril selalu saja mewasiatkan padaku akan hak tetangga, sampai-sampai aku menyangka bahwa dia akan mewarisi aku.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah juga berwasiat kepada Abu Dzar al-Ghifari,
“Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak gulai, perbanyaklah airnya dan bagikanlah kepada tetanggamu.” (H.R. Muslim)
Rasulullah sering mengingatkan agar tidak menyakiti tetangga,
“Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman karena ulah perbuatannya.” (H.R. Muslim)
Dan sebagai penghormatan dan penghargaan kepada tetangga, beliau bersabda,
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya.” (H.R. Muslim)
Pergaulan yang Baik
Aisyah radiyallahu ‘anha berkata, “Kalau Rasulullah mendengar atau mendapat informasi tentang seseorang (kejelekannya), beliau tidak berkata, “Untuk apa si fulan berkata begini…” melainkan beliau berkata, “Untuk apa orang-orang berkata begini, begitu…” (H.R. Tirmidzi)
Diceritakan oleh Anas bin Malik bahwa seseorang menghadap Rasulullah, sedangkan di wajahnya ada bekas sesuatu yang kekuning-kuningan. Rasulullah jarang menjumpai hal yang serupa itu karena beliau tidak senang dengan orang yang tidak memperhatikan kebersihan. Setelah orang itu pergi, Rasulullah berkata, “Seandainya kalian menyuruhnya untuk membersihkan wajahnya terlebih dulu, hal itu lebih baik bagi kalian.” (H.R. Abu Daud dan Ahmad)
Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata bahwa “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Akankah aku beritahukan kalian orang yang haram masuk neraka, atau orang yang neraka dilarang untuk membakar tubuhnya? Yaitu kerabat dekat yang lemah lembut, terbuka, ramah, dan mudah bergaul.”
Hak-Hak yang Harus Dipenuhi
Hak-hak yang harus dipenuhi oleh manusia banyak sekali. Hak Allah, hak orang lain, dan hak diri kita sendiri. Nah, bagaimana Rasulullah membagi dan mengatur serta memenuhi hak-hak tersebut?
Anas menceritakan, “Telah datang tiga (kelompok) orang ke rumah Rasulullah menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah mereka diberitahu, seakan-akan mereka sukar mempercayainya. Mereka berkata, ‘Apalah artinya kita jika dibandingkan dengan Rasulullah, sedangkan beliau telah diampuni segala dosanya?’
Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Aku akan selalu bangun dan shalat di tengah malam selamanya.’ Yang seorang lagi berkata, ‘Aku akan berpuasa sepanjang masa tanpa berbuka.’ Sedangkan yang satu lagi berkata, ‘Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah.’ Kemudian datanglah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam kepada mereka dan bersabda,
“Kalian yang telah mengatakan begini dan begitu? Ketahuilah, demi Allah aku orang yang paling bertakwa di antara kalian, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku menikah. Maka barangsiapa yang tidak setuju dengan sunnahku maka dia bukan dari golonganku.” (Muttafaq ‘alaih

Dikala Nabi Muhammad Beristighfar


Ada suatu hal yang tidak pernah bisa dipisahkan antara Nabi Muhammad shalallahu ‘alahi wassalam dengan tersambungnya hati beliau dengan Allah. Hal ini beliau lakukan melalui dzikir. Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seorang nabi yang tidak pernah membuat waktu terbuang begitu saja tanpa mengingat Allah, memuji, bersyukur, dan memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal kita tahu bahwa beliau sudah diampuni segala dosa dan kesalahannya oleh allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan beliau dijanjikan akan mendapatkan derajat yang tertinggi di surga kelak. Namun tetap saja Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam selalu menjadi hamba yang senantiasa memohon ampunan kepada Rabb-Nya. Beliau adalah contoh keteladanan dengan akhlaq yang terpuji, yang senantiasa mensyukuri nikmat dan karunia dari Allah yang diberikan kepadanya dan keluarganya. Beliau adalah seorang rasul yang tahu bagaimana caranya menghargai waktu dan senantiasa mengisinya dengan ibadah-ibadah baik itu dengan dzikir, shalat, puasa, bersedekah, dan lain-lain.
Bahkan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah senantiasa bangun di malam hari untuk melaksanakan shalat qiyamul lail, sampai-sampai kaki beliau bengkak karena beliau berdiri begitu lama dalam shalatnya. Dalam shalatnya, beliau seringkali menangis karena hatinya bergetar mengingat Allah. Beliau menyadari posisinya sebagai seorang hamba Allah dan menyadari bahwa ada tanggung jawab yang harus dipikul sebagai seorang nabi. Seringkali Rasulullah berduka karena memikirkan keadaan kaumnya dan umatnya. Rasulullah ingin agar umat manusia berada di jalan yang lurus, yaitu berada dalam agama Islam yang telah diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itulah seringkali beliau bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar umat manusia patuh kepada perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Aisyah radiyallahu ‘anha pernah berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam selalu mengingat dan menyebut nama Allah di setiap waktu.” (H.R. Muslim)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu bahwasanya, “Kami menghitung istighfar Rasulullah dalam satu majelis adalah sebanyak seratus kali. Belliau selalu beristighfar, “Tuhanku ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang.” (H.R. Abu Daud)
Dikatakan oleh Abu Hurairah, “Aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alahi wassala bersabda, “Demi Allah, aku mohon ampun dan bertaubat lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (H.R. Bukhari)
Ummu Salamah meriwayatkan betapa seringnya Rasulullah berdo’a ketika bersamanya. Do’a beliau adalah sebagai berikut, “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati. Tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.” (H.R. Tirmidzi)
Masya Allah. Begitu mengangumkannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Bayangkan dan renungkanlah! Seorang nabi paling mulia, manusia paling sempurna di muka bumi ini, dimana dirinya sudah dijamin masuk surga oleh Allah subhanahu wa ta’ala, namun beliau tetap senantiasa beristighfar kepada Allah. Lalu bagaimana dengan kita? Seberapa seringkah kita beristighfar kepada Allah? Semoga kita juga bisa meneladani dan mencontoh apa yang beliau lakukan, yaitu senantiasa beristighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Meneladani Rasulullah dalam Membela Kehormatan Orang Lain


Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seorang pribadi yang memiliki akhlaq mulia. Beliau senantiasa membela kehormatan orang lain dan tidak menyukai apabila ada yang melanggar hak orang lain. Beliau juga seringkali berkumpul bersama para sahabat di majelis taklim dan dzikir. Hal ini dikarenakan majelis taklim dan dzikir adalah tempat berkumpul yang paling mulia. Bahkan para malaikat pun ikut berkumpul di majelis-majelis dimana umat manusia mengagungkan dan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala. Di majelis itu beliau seringkali memberikan petunjuk, pengajaran, dan nasihat-nasihat yang berharga kepada para sahabat. Para sahabat yang hadir disana mendengarkan beliau dengan penuh antusias karena butiran-butiran nasihat yang beliau sampaikan adalah sesuatu yang sangat berharga dan penuh dengan manfaat. Dalam majelis itu beliau meluruskan kesalahan, mengingatkan yang lupa, dan memberikan segala petunjuk kebaikan. Dalam majelis itu beliau shalallahu ‘alaihi wassalam melarang gosip, bergunjing, dan adu domba. Beliau tidak rela bila ada seseorang yang menceritakan aib orang lain.
Ada sebuah kejadian yang diriwayatkan oleh Utbah bin Malik, “Rasulullah berdiri untuk shalat kemudian berkata, ‘Dimana Malik Ibnu Dakhsyam?’ Seseorang menjawab, ‘Dia adalah munafik yang tidak suka kepada Allah dan rasul-Nya.’ Kemudian Rasulullah berkata, ‘Jangan begitu, bukankah dia telah mengatakan tiada tuhan selain Allah dengan mengharapkan ridha Allah? Sesungguhnya, Allah mengharamkan masuk neraka bagi orang yang mengatakan laa ilaaha illa Allah untuk meraih keridhaan Allah.’ (Muttafaq ‘alaih). Beliau mengulanginya sampai tiga kali.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memperingatkan agar kita jangan sampai memberikan kesaksian palsu dan berbuat dzalim terhadap hak orang lain. Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kewajiban kita dan memenuhi hak orang lain, di antaranya dengan menepati janji, berbakti kepada kedua orang tua, dan menghargai orang lain. Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Maukah kalian kuberitahu tentang dosa yang paling besar?” Kami mengiyakan, lalu beliau berkata, “Yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada orangtua.” Waktu itu beliau sedang bersandar ke dinding lalu duduk dan berkata, “Ingatlah juga, kesaksian palsu (berdusta).” Beliau terus-menerus mengulanginya sampai kami berkata, “Mudah-mudahan beliau diam.” (Muttafaq ‘alaih)
Walaupun beliau shalallahu ‘alaihi wassalam sangat mencintai istrinya, namun beliau tetap tidak rela apabila ada di antara mereka yang bergunjing atau bergosip. Aisyah meriwayatkan, “Aku berkata kepada Rasulullah, ‘Cukuplah bagimu tentang Shafiyah begini dan begitu…’” Sebagian perawi menjelaskan bahwa Aisyah mengatakan Shafiyah adalah orang yang bertubuh pendek. Lalu Rasulullah bersabda, “Kamu telah mengatakan suatu kalimat yang seandainya bisa dicampur dengan air laut, maka akan kucampur.” (H.R. Abu Daud)
Rasulullah juga memberi kabar gembira kepada orang yang membela kehormatan orang lain melalui sabdanya, “Barangsiapa yang membela saudaranya yang sedang digunjingkan, maka orang itu berhak untuk dibebaskan oleh Allah dari neraka.”